Dipersiapkan Setelah Ashar

Doa adalah senjata orang muslim, akupun merasakannya. Kekecewaan, disaat menggantungkan harapan kepada seseorang. Harapan yang telah menumbuhkan rasa nyaman jika bersama, rasa gelisah didalam hati, rasa ingin saling memiliki. Seiring berjalannya waktu harapan itu semakin besar begitu pula dengan rasa itu. Walaupun aku sadar, tak seharusanya berharap kepada seseorang yang sudah jelas akan mendapat sebuah kekecewaan. Tapi, semuanya sudah terlanjur jauh, harapan semakin besar, rasa semakin dalam hingga aku bingung harus menghentikan sebuah harapan yang salah tujuan itu.

Disisi lain aku ingin memantaskan diri ku dengan hanya berharap kepada sang penciptaku, namun aku masih memiliki harapan kepada makhluk ciptaannya. Sebagai makhluk yang berkeinginan memperbaiki diri, aku belum lah orang yang tegas. Belum dapat tegas dalam memutuskan sesuatu, belum dapat katakan “akhiri” pada harapanku yang salah. Sehingga aku hanya memilih perlahan untuk menjauh tanpa alasan yang jelas. Walaupun pada situasi lain, pada kondisi lain, aku dapat kembali dekat. Bahkan sangat dekat dari sebelumnya sampai harapan-harapan baru kepadanya muncul, rasa-rasa baru kepadanya timbul. Hingga aku sadar bahwa menjauh tanpa alasan bukanlah cara yang tepat.

Doa. Mungkin jalan keluarnya adalah berdoa. Berdoa untuk berharap kepada yang tepat, berdoa untuk berakhir dengan cara-cara yang tak terduga, berdoa agar dapat berharap seseorang itu kepada sang pencipta. Itu karena aku belumlah orang yang tegas. Sehingga aku serahkan kepada sang penciptaku hingga ia memberi episode-episode terbaiknya buatku.

Semua itu terjawab, doaku terjawab. Dengan cara yang tak pernahku duga sebelumnya harapan kepada seseorang itu terhenti. Bukan dengan cara yang buruk, melainkan cara yang sangat indah, cara yang dapat membuatku meneteskan air mata karena terharu bahwa itu adalah rencana tuhanku yang terbaik. Rencana indah itu sangat menganggumkan, dimana tuhanku memberikannya langkah-langkah untuk saling memperbaiki diri, langkah-langkah untuk mengganti berdua menjadi berdoa, langkah-langkah mengganti yang terburu-buru menjadi perlahan tapi pasti. Itulah rencana tuhanku.

Hingga setelah ashar aku mulai dipersiapkan. Untuk selalu memantaskan diri, untuk hanya berharap kepada sang pencipta, dan untuk selalu berdoa. Karena aku yakin doa adalah senjata orang muslim. Karena aku yakin dengan doa aku bisa kembali bersama seseorang yang aku harapkan dulu. Pastinya dengan cara yang benar, dengan tidak terburu-buru. Jikalau tuhanku punya rencana yang lain. Maka hanya ikhlas lah kuncinyaa, karena aku hanya berharap kepada sang pencipta. Dia yang memiliki rencana-rencana tak terduga lainnya.
Previous
Next Post »